Good posting from a user in bajingloncat.com
Seandainya Bandwidth Internet Indonesia Besar
Entah kapan bisa terwujud internet berkecepatan tinggi masuk dengan harga murah ke lingkungan perumahan. Lebih berandai-andai lagi saat kita membayangkan internet berkecepatan tinggi bisa masuk hingga ke pelosok desa. Semua orang bisa mengaksesnya dengan mudah dan murah, tak berbeda dengan menonton TV dan VCD. Seandainya hal itu terwujud, kira-kira dunia seperti apa yang akan kita hadapi ya? Lalu, bagaimana pemasar brand kira-kira beriklan ya?
Secara komersial, dunia yang terjadi mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang dinikmati warga US, Eropa, Jepang, dan Korea saat ini. Semua orang memiliki akses tanpa batas ke internet, dan bahkan menjadikan internet sebagai dunia keduanya. Dunia dimana semua individu terkoneksi secara virtual, sehingga perilaku aktivitas sosial pun ikut bergeser. Jarak antar-individu yang berjauhan di berbagai pulau terasa semakin dekat, karena di dunia virtual mereka bisa berinteraksi bersama.
Anak-anak dan remaja berinteraksi dalam beragam konten interaktif. Yang pasti terjadi adalah semakin serunya permainan game online. Kalau sekarang, hampir semua anak di desa saja bisa mudah bermain Playstation2. Mereka selalu berkumpul di satu lokasi, bertanding bareng, dan secara tidak langsung kegiatan sosial pun terjadi. Bentuknya memang beda dibandingkan zaman kita kecil dahulu, dimana aktivitas sosial selalu terjadi di luar rumah. Pergeseran gaya kumpul-kumpul ini akan semakin terasa saat semua anak bisa berkumpul melalui game online. Bahkan, untuk anak-anak yang cenderung pemalu, mungkin akan memiliki keberanian untuk berinteraksi. Hal ini bukan berarti kegiatan bersama di luar rumah tidak perlu, tapi aktivitas kebersamaan online akan ikut membawa perkembangan positif dalam diri anak.
Bila semakin banyak anak yang adiktif bermain game online, bisa jadi peluang pemasangan iklan pun bergeser ke media ini. Iklan bisa muncul dalam bentuk yang sederhana, seperti sekedar poster atau papan iklan yang menjadi bagian dari lingkungan game. Bisa pula muncul menjadi sesuatu yang interaktif dengan pemain. Misalnya, seorang pemain bisa menggunakan permen keluaran brand tertentu yang bisa mengeluarkan hawa nafas segar yang mematikan musuh-musuhnya. Atau, seorang pemain bisa memasuki level khusus yang didesain bersuasana brand tertentu.
Second Life
Untuk remaja yang lebih dewasa, jaringan sosial yang terbentuk sekarang saja melalui website komunitas sudah sedemikian besarnya. Perkembangannya akan lebih menarik, karena mungkin tidak hanya foto dan cerita saja yang dipamerkan seseorang kepada teman-temannya. Bandwidth yang besar akan memungkinkan seseorang untuk berbagi cerita melalui tampilan video dan musik yang direkam melalui telepon selular, webcam, digicam, MP3 player, dll. Cerita seseorang akan terasa lebih nyata karena dilengkapi dengan audio visual yang jernih.
Dengan semakin besarnya bandwidth, prediksi iklan televisi 30 detik akan mati, akan semakin mendekati kenyataan. Jaringan internet akan menjadi tulang punggung penyiaran televisi digital. Iklan televisi bisa berdurasi bebas dan bahkan berinteraksi dengan penggunanya. Karena mudahnya akses dan teknologi untuk membuat suatu video, bukan tidak mungkin iklan televisi dibuat sendiri oleh pemirsanya, berdasarkan persepsinya sendiri. Pemasar iklan hanya menjadi fasilitator bagi konsumennya untuk mengespresikan dan menjadikan iklan itu bagian dari pengalaman dirinya.
Kini beberapa pemasar brand mulai menayangkan iklannya dalam program televisi bersponsor. Mereka sadar, dengan semakin banyaknya iklan televisi yang diputar berturutan, probabilitas orang melihat iklan akan semakin kecil. Apalagi, kini kuasa dipegang oleh remote control. Tinggal ganti saluran, nikmati program di saluran televisi lain, tunggu beberapa menit, dan kembali lagi ke program sebelumnya. Di era televisi digital, probabilitas orang melihat iklan akan menjadi lebih semakin kecil, karena dengan mudah mereka bisa mempercepat program yang mereka lihat, sehingga bisa-bisa iklan tidak dilihat sama sekali. Hal ini yang terjadi saat DVR dikenalkan di masyarakat US. Mereka tinggal merekam, nonton kapan saja, dan semua iklan dilewatkan begitu saja.
Saat bandwidth kencang sudah meng-Indonesia, pola pengiklan bisa jadi berubah. Mereka bisa saja membangun sebuah website dengan membawa nama brand tertentu. Melalui website ini, pengiklan bisa menyajikan program-program televisi yang siap di-download atau diputar secara streaming yang spesifik terhadap suatu topik tertentu. Misalnya, sebuah produk susu untuk ibu dan bayi, bisa menyajikan video tentang hal yang harus dilakukan saat seorang bayi cegukan. Atau, sebuah produk minuman untuk remaja bisa memberikan video interaktif tentang tips-tips gaul yang sehat. Video ini tentu dilengkapi dengan pesan kampanye brand yang mensponsori website.
Cara lainnya adalah dengan menaruh pesan iklan video di awal program televisi yang dilihat secara streaming oleh pengunjung. Mau tidak mau, pengunjung terpaksa melihatnya, karena cara inilah yang membuat program televisi itu menjadi tidak berbayar (gratis).
Saat semua orang memiliki akses internet mudah, bisa dipastikan sebagian besar dari mereka akan menuangkan pendapat, opini, kritik, cerita, pengalaman mereka terhadap segala situasi, termasuk hal-hal yang menyangkut dengan produk tertentu. Mereka merekamnya melalui cerita, foto, bahkan video. Suatu era dimana media kuat untuk membangun atau menjatuhkan suatu brand ada di tangan konsumen sendiri. Ulasan seseorang yang membeli produk telepon selular tertentu akan ikut menentukan keputusan calon pembeli berikutnya. Bila produk yang ditawarkan sesuai dengan ekspektasi konsumen, dan ini diulasnya di blog yang dibaca ratusan orang, tentunya akan berdampak positif terhadap citra produk tersebut. Sebaliknya, bila kejadian memalukan seorang pelayan toko diliput melalui kamera telepon genggam dan disebarkan melalui forum di internet, bisa-bisa malah memberikan citra buruk toko tersebut.
Tulisan di atas hanyalah gambaran imajinatif yang mungkin terjadi. Tapi di belahan bumi lain, hal-hal tersebut sudah mendekati kenyataan. Bukan tidak mungkin dalam 5 tahun mendatang, hal serupa mulai terlihat kenyataannya di Indonesia.
3:58 PM | Labels: bandwidth | 0 Comments
bandwidth koenksi ke Amerika Utara dan Jepang
• Jepang dan Amerika terhubung dengan 2 kabel berkapasitas 2Tb/s
Fujitsu bersama PC-1 Trans Pacific Fiber Optic akan meningkatkan kecepatan koneksi antara negara Amerika dengan Jepang sampai 1TB/s.
Kabel sepanjang 20 ribu kilometer lebih yang dimiliki PC-1 telah ditambah kecepatannya.
Ketika dipasang, kecepatan kabel PC1 hanya 180Gbs, lalu ditambah menjadi 640Gbs pada tahun 2006. Lalu diupgrade lagi menjadi 1Tbs
Fujitsu dengan PC1 meningkatkan koneksi antara Amerika dan Jepang lagi melalu kabel optic bawah laut tersebut.
Pengerjaan dimulai September 2007, setelah 7 bulan dengan pengunakan Flashwave S650 kabel bawah laut maka jaringan PC1 akan mencapai 1.98Tbs, sementara jaringan 1.01Tbs hanya tersedia dari segmen Trans Pacific yang terhubung ke 2 dari 4 point antara Shima dan Ajigaura Jepang ke harbour Pointe (WA) dan Grover Beach (CA) di Amerika.
Apakah koneksi ini paling besar. Nantinya ada lagi jalur terbesar di Asia dengan dukungan Google.
Nec dan Tyco akan mengimplemntasikan teknologinya bersama Google dengan jalur Unity sampai Asia.
Kecepatan lebih cepat dari proyek Fujitsu dengan PC1. karena kecepatan mencapai 7.68Tbs atau setara dengan 983.04 GB./s
3:56 PM | Labels: bandwidth | 0 Comments
New York Kuasai 43 Persen Bandwidth Dunia
NEW YORK – Kalau membahas tentang bandwidth Internet, belum ada yang mengalahkan New York. New York memakai lebih dari 43 persen dari kapasitas Internet global disusul London, kota nomor dua di dunia dalam hal penggunaan bandwidth, dan tujuh kali kapasitas San Fransisco, demikian hasil sebuah survey yang dirilis hari Selasa.
Dengan kapasitas terpasang yang demikian besarnya, New York dapat mengakses data sebesar 150 gigabit per detik, setara dengan 9 juta halaman teks. Jumlah ini jauh melebihi kapasitas transmisi data antar benua atau hanya bisa disaingi oleh segelintir negara.
“Ini karena New York adalah benar-benar tulang punggung yang mempertemukan antara Eropa dan Amerika Serikat,” ucap Jessica Marantz, direktur pengembangan bisnis untuk TeleGeography (http:// www.telegeography.com), perusahaan riset telekomunikasi yang melakukan studi ini.
New York, yang punya koneksi langsung dengan 71 negara atau lebih banyak sepuluh negara dibanding London, juga menjadi pangkalan berbagai perusahaan besar penyedia layanan Internet (service providers) sehingga faktor ini ikut menambah besarnya kapasitas kota ini, kata Marantz.
Setelah New York dan London, kota-kota dengan bandwidth terbesar secara berurutan adalah Amsterdam, San Fransisco, Tokyo, Washington DC, Miami, Los Angeles dan Kopenhagen.
Sebagian besar bandwidth antar benua disalurkan melalui kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai hub besar di dunia. Kabel-kabel terrestrial dan satelit juga menyalurkan Internet dalam kapasitas yang cukup signifikan.
New York juga merupakan muara untuk lebih dari belasan kabel bawah laut yang menghubungkan Amerika Serikat dengan Eropa dan Amerika Latin.
Namun para pengguna Internet di New York ternyata kurang bertanggungjawab dengan pemeliharaan bandwidth ini, dan juga kurang memanfaatkannya. Itu semua ternyata bergantung kembali kepada apa yang ditawarkan oleh berbagai Internet service providers kepada mereka.
Seseorang di Denvr atau Buenos Aires atau Toronto terhubung dengan sebuah situs Web di Paris, Kairo atau Berlin mungkin harus mentransmisikan data melewati New York. Kota-kota hub lainnya seperti Miami, London, Paris dan Amsterdam juga akan menjadi rute trafik seperti itu.
Dalam banyak kasus, rute data juga tidak bisa langsung. Kerap kali, para surfer di Internet mengirimkan data antara dua kota di Eropa juga harus melewati New York, kata Marantz.
TeleGeography tidak punya cara mengukur berapa banyak bandwidth digunakan secara lokal di New York, atau di kota-kota hub utama, dan berapa yang sekedar lewat, ujar Marantz.
1:18 PM | Labels: bandwidth | 0 Comments


