UNESCO ; 2500 Language in this World can be disappear

Sekitar 2.500 bahasa di dunia, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia, kini terancam punah, demikian diungkapkan Unesco berkaitan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari 2009. Dalam pernyataannya, Jumat, badan Perserikatan Bangsa Bangsa bidang pendidikan, sains, dan budaya itu menyebutkan bahwa Indonesia, India, AS, Brazil dan Meksiko termasuk negara yang memiliki kekayaan ragam bahasa, namun jumlah bahasa yang terancam punah di kawasan itu pun cukup besar. Dalam atlas yang merupakan update dari atlas tentang bahasa-bahasa di dunia yang terancam punah tersebut, Unesco mengklasifikasikannya dalam lima tingkatan, mulai dari level tidak aman, terancam, sangat terancam, kritis, hingga benar-benar telah punah.


Disebutkan bahwa saat ini ada 6.000 bahasa di dunia. Sebanyak lebih dari 200 bahasa telah punah dalam tiga generasi terakhir ini, 538 masuk level kritis (hampir punah), 502 sangat terancam, 632 terancam, dan 607 tidak aman.

Sebanyak 200 bahasa di dunia kini hanya memiliki penutur kurang dari 10 orang, dan 178 lainnya antara 10 hingga 50 penutur.

Bahasa Manx, di Isle of Man, Inggris, punah pada 1974 setelah Ned Maddrell, penutur terakhir, meninggal dunia, sedangkan bahasa Eyak di Alaska punah dengan meninggalnya Marie Smith Jones tahun 2008.

“Punahnya suatu bahasa menyebabkan hilangnya berbagai bentuk dari warisan budaya, khusus warisan tradisi dan ekspresi berbicara masyarakat penuturnya, mulai dari sajak-sajak dan cerita, hingga peribahasa dan lelucon-lelucon,” kata Direktur UNESCO Koichiro Matsuura, dalam situs Unesco.

Lebih dari 30 ahli bahasa menyusun atlas ini, yang menyebutkan proses kepunahan suatu bahasa yang terjadi di setiap kawasan dan berbagai kondisi ekonomi.

Hampir dua pertiga bahasa di dunia digunakan di kawasan sub-Sahara Afrika, dan sekitar 10 persen di antaranya diperkirakan bakal punah pada abad mendatang.

Di Prancis, 13 bahasa juga masuk dalam kategori terancam keberadaannya.

Beberapa bahasa yang masuk kategori terancam punah, di antaranya bahasa Cornish di Inggris dan Sishe di Kaledonia Baru, kini direvitalisasi lagi secara aktif dan berpotensi hidup kembali.

Di Indonesia sendiri, dari 742 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah karena jumlah penuturnya kurang dari 500 orang

4 comments:

Anonymous said...

appear or disappear?

Anonymous said...

thank you renaye for your correction.... i'll be correct it... my English is not perfect

Anonymous said...

Indonesia kaya akan bahasa namun memang penerapan bahasa indonesia sebagai nasional cukup menggerus keberadaan bahasa daerah. sudah menjadi konsekuensi ya...

Anonymous said...

yups.... globalization era was come... we must ready with all Consequention

Designed by Posicionamiento Web | Bloggerized by 용데Blogger